Cara Efektif Mengurangi Overstock yang Merusak Keuangan Perusahaan

Cashflow adalah aliran darah sebuah bisnis. Ketika cashflow tersendat, operasional langsung terganggu—tagihan vendor menumpuk, pembelian bahan baku tertunda, hingga potensi kehilangan peluang penjualan. Salah satu penyebab paling umum terhambatnya arus kas adalah persediaan barang yang tidak dikelola dengan baik.
Banyak perusahaan berpikir bahwa stok banyak berarti aman. Padahal, stok yang berlebih justru mengunci modal dan mengurangi kemampuan bisnis untuk bergerak cepat. Artikel ini membahas hubungan inventory dengan cashflow, masalah yang muncul akibat stok berlebih, teknik optimalisasi, rumus pengendalian pembelian, hingga checklist pembelian yang dapat langsung diterapkan.
Hubungan Inventory vs Cashflow
Inventory dan cashflow memiliki hubungan yang sangat erat. Ketika perusahaan membeli barang untuk dijual atau bahan baku untuk produksi, uang berubah menjadi persediaan. Uang yang seharusnya bergerak untuk kebutuhan lain menjadi “diam” di dalam gudang.
Tiga hubungan utama inventory cashflow:
1. Semakin besar stok, semakin besar modal yang terkunci
Setiap item yang tersimpan adalah uang yang tidak berputar. Misalnya perusahaan membeli stok senilai Rp 500 juta, maka uang itu tidak bisa digunakan lagi sampai barang terjual.
2. Stok menghabiskan biaya tambahan
Inventory bukan hanya diam ia juga memakan biaya:
- Biaya gudang
- Biaya tenaga kerja
- Biaya sewa ruang
- Biaya keamanan
- Biaya listrik dan utilitas
- Biaya finansial dari uang yang tidak berputar
Artinya, semakin lama barang tersimpan, semakin mahal biaya operasionalnya.
3. Perputaran stok menentukan kesehatan cashflow
Perusahaan dengan inventory turnover tinggi biasanya memiliki cashflow sehat karena:
- Barang cepat berubah menjadi uang
- Modal kembali lebih cepat
- Bisnis lebih fleksibel mengambil peluang
Sebaliknya, turnover rendah adalah tanda bahaya. Stok lama menghambat cashflow, dan perusahaan berisiko terjebak dalam siklus kekurangan modal.
Masalah Cashflow Akibat Stok Berlebih
Stok berlebih sering muncul secara tidak sadar. Biasanya perusahaan membeli karena takut kehabisan barang, mengejar diskon volume, atau salah membaca permintaan. Namun dampaknya sangat serius.
1. Modal Kerja Mengendap
Ketika stok menumpuk, bisnis kehilangan ruang untuk bergerak. Tanpa cashflow yang lancar, perusahaan sulit:
- Membayar supplier tepat waktu
- Membeli barang yang lebih laku
- Membiayai operasional harian
- Menangkap peluang pasar
Perusahaan bisa tampak sibuk, tetapi sebenarnya “miskin uang tunai”.
2. Biaya Gudang Membengkak
Semakin besar stok, semakin besar biaya yang harus ditanggung.
Contoh biaya tambahan:
- Penambahan rak
- Penyewaan gudang baru
- Biaya forklift atau armada internal
- Kerusakan atau penyusutan barang
- Asuransi wawasan risiko
Jika stok tidak bergerak, biaya ini menjadi semakin berat.
3. Risiko Dead Stock Meningkat
Dead stock terjadi ketika barang tidak terjual, rusak, kedaluwarsa, atau tidak relevan lagi. Dead stock bukan hanya rugi nilai barang, tetapi juga rugi biaya penyimpanan.
Di banyak industri, dead stock dapat mengambil 20–40% ruang gudang.
4. Perusahaan Sulit Mengambil Keputusan Strategis
Stok berlebih membuat laporan keuangan terlihat “palsu”. Inventory tinggi membuat neraca tampak kuat, padahal uang tidak dapat digunakan.
Keputusan seperti ekspansi, pengadaan mesin baru, atau kampanye marketing bisa tertunda karena tidak ada dana yang mengalir.
5. Perubahan Tren Pasar Tidak Terkejar
Permintaan bisa berubah kapan saja. Stok berlebih membuat perusahaan terjebak pada barang lama, padahal pasar meminta produk baru.
Akibatnya:
- Penjualan menurun
- Barang diskon besar
- Margin profit turun
Ini adalah salah satu penyebab kenapa bisnis retail banyak tumbang.
Teknik Optimalisasi Stok Agar Tidak Membebani Modal
Ada beberapa teknik pengelolaan inventori yang bertujuan menjaga stok tetap optimal dan tidak mengganggu cashflow.
1. Menggunakan Safety Stock Secara Proporsional
Safety stock terlalu besar menyebabkan pemborosan. Sebaliknya, jika terlalu kecil dapat menyebabkan stockout. Gunakan perhitungan safety stock berbasis:
- Variasi permintaan
- Variasi lead time supplier
- Service level yang diinginkan
Dengan safety stock yang tepat, perusahaan bisa menjaga layanan tanpa mengunci modal terlalu banyak.
2. Forecasting Penjualan Berbasis Data
Forecasting yang baik akan membuat pembelian lebih akurat dan sejalan dengan kebutuhan pasar. Teknik forecasting umum meliputi:
- Moving average
- Exponential smoothing
- Musiman (seasonality)
- Regresi
- Machine learning forecasting
Semakin lengkap data historis, semakin presisi prediksi permintaan.
3. Metode ABC untuk Prioritas Stok
AB C analysis membagi inventori ke dalam tiga kategori:
- A (high value) — pengawasan ketat
- B (medium value) — kontrol moderat
- C (low value) — minimal pembelian
Kategori A harus sangat akurat, sedangkan kategori C harus diminimalkan karena berisiko menjadi dead stock.
4. Menerapkan Just In Time (JIT)
JIT mengurangi stok di gudang dengan cara membeli hanya ketika diperlukan. Teknik ini meningkatkan cashflow, tetapi membutuhkan:
- Supplier responsif
- Lead time pendek
- Data real-time
JIT tidak cocok untuk industri yang memiliki demand sangat fluktuatif tanpa pola jelas.
5. Menentukan Kuantitas Pesanan yang Optimal
Banyak perusahaan membeli terlalu banyak karena diskon. Padahal, diskon volume belum tentu menguntungkan ketika biaya gudang lebih besar dibanding selisih harga.
Gunakan perhitungan EOQ (Economic Order Quantity) untuk mengetahui jumlah pembelian paling efisien.
6. Menjalankan Program Promosi Barang Lambat Terjual
Cara cepat mengubah stok menjadi uang:
- Flash sale
- Diskon clearance
- Bundling
- Penjualan ke distributor kecil
- Penawaran B2B khusus
Tujuannya bukan margin tinggi, tetapi mengembalikan modal agar cashflow berjalan.
7. Digitalisasi Sistem Inventory
Sistem manual menyebabkan:
- Selisih stok
- Data terlambat
- Perputaran stok tidak terlihat
- Keputusan pembelian tidak akurat
Gunakan sistem seperti:
- WMS
- ERP
- Barcode scanner
- Dashboard real-time
Digitalisasi membuat kontrol stok jauh lebih akurat.
8. Melakukan Periodic Review
Review stok secara:
- Mingguan
- Dua mingguan
- Bulanan
Periodic review membantu mengidentifikasi barang yang slow-moving atau barang yang pembeliannya harus dihentikan sementara.
9. Mengurangi Variasi SKU yang Tidak Perlu
SKU yang terlalu banyak menyebabkan demand terpecah dan stok menumpuk.
Audit SKU yang:
- Penjualannya lambat
- Margin rendah
- Tidak punya daya tarik pasar
Kurangi SKU agar modal fokus pada barang yang bergerak cepat.
10. Mengoptimalkan Perputaran Stok (Inventory Turnover)
Inventory turnover yang sehat biasanya:
- Retail: 6-12 kali setahun
- FMCG: 12-18 kali
- Manufaktur: 4-8 kali
Meningkatkan turnover berarti mempercepat pergerakan modal.
Cara meningkatkan turnover:
- Forecast lebih baik
- Diskon penghabisan
- Pembelian lebih kecil tetapi lebih sering
- Perbaikan rotasi stok (FIFO/FEFO)
Rumus Pengendalian Pembelian Stok
Ada beberapa rumus yang sangat membantu stabilitas pembelian agar tidak berlebihan.
1. Economic Order Quantity (EOQ)
EOQ = √((2 × D × S) / H)
Keterangan:
D = Permintaan tahunan
S = Biaya pemesanan
H = Biaya penyimpanan per unit
EOQ membantu menentukan jumlah pesanan paling efisien.
2. Reorder Point (ROP)
ROP = (Demand Harian × Lead Time) + Safety Stock
Ketika stok menyentuh ROP, perusahaan harus melakukan pemesanan ulang.
3. Safety Stock
Safety Stock = (Z × σ demand × √Lead Time)
Z mengikuti service level:
- 1.28 = 90%
- 1.64 = 95%
- 1.96 = 97.5%
Rumus ini membuat persediaan tetap aman tanpa mengunci modal berlebihan.
Checklist Perencanaan Pembelian & Perputaran Stok
Checklist ini dapat Anda gunakan langsung di perusahaan sebagai SOP pembelian.
Checklist Perencanaan Pembelian
- Cek forecast permintaan terbaru
- Evaluasi stok saat ini (on-hand + in-transit)
- Bandingkan stok dengan ROP
- Cek lead time supplier
- Cek penjualan 30 hari terakhir
- Cek stok slow-moving & dead stock
- Kurangi SKU tidak produktif
- Hitung pembelian dengan EOQ jika stabil
- Validasi kebutuhan operasional vs kapasitas modal
- Pastikan pembelian tidak melewati batas min–max
Checklist Perputaran Stok
- Hitung inventory turnover setiap bulan
- Identifikasi stok yang tidak bergerak > 60 hari
- Jalankan promosi untuk SKU slow-moving
- Perbaiki rotasi stok (FIFO / FEFO)
- Cek akurasi stok dengan cycle counting
- Analisis biaya penyimpanan bulanan
- Evaluasi supplier lambat atau tidak konsisten
Checklist ini membantu perusahaan menjaga stok tetap optimal dan cashflow tetap sehat.
Kesimpulan
Mengatur persediaan barang bukan hanya tentang ketersediaan produk, tetapi juga tentang mempertahankan cashflow agar bisnis dapat berjalan lancar. Stok berlebih membuat modal terkunci, biaya gudang meningkat, dan risiko dead stock naik. Dengan teknik optimalisasi stok, forecasting, perhitungan EOQ dan ROP, serta checklist pembelian yang disiplin, perusahaan dapat menjaga perputaran stok tetap sehat.
Cashflow yang lancar memberikan ruang bagi bisnis untuk berkembang, berinovasi, dan mengambil peluang lebih cepat dibanding kompetitor.
Jika Anda ingin sistem inventory yang lebih otomatis, akurat, dan terintegrasi dengan cashflow perusahaan, tim kami siap membantu dengan solusi manajemen persediaan modern yang terbukti meningkatkan efisiensi operasional.
Optimalkan pengelolaan inventory bisnis Anda sekarang juga. klik tautan ini untuk melihat jadwal terbaru dan penawaran spesial solusi terbaik untuk stok yang lebih efisien dan terkendali.
Referensi
- Chopra, Sunil & Meindl. Supply Chain Management: Strategy, Planning, and Operation.
- Silver, Pyke & Peterson. Inventory Management and Production Planning.
- Harvard Business Review – Inventory Turnover Analysis.
- Gartner Research – Modern Approaches to Inventory Optimization.