Skip to content

My Blog

My WordPress Blog

Menu
  • Sample Page
Menu
7–10 kesalahan utama inventory control

Kesalahan Klasik dalam Inventory Control yang Sering Tidak Disadari

Posted on December 8, 2025

Kesalahan Pengelolaan Stok yang Bikin Biaya Membengkak

7–10 kesalahan utama inventory control

Inventory control bukan hanya soal mencatat keluar-masuk barang. Lebih dari itu, bisnis harus memastikan stok selalu akurat, tidak berlebih, tidak kurang, dan bergerak sesuai permintaan. Masalahnya, banyak bisnis baik UMKM maupun perusahaan berkembang melakukan kesalahan klasik yang terlihat sepele tetapi berdampak besar pada cashflow, biaya operasional, bahkan reputasi di mata pelanggan.

Artikel ini membahas 7-10 kesalahan utama dalam inventory control, dampaknya bagi bisnis, cara memperbaikinya dengan cepat, serta tools pendukung agar kesalahan tidak terulang.

7–10 Kesalahan Utama Inventory Control yang Sering Terjadi

1. Tidak Memiliki Standar Pencatatan Stok

Banyak bisnis mencatat stok hanya “seadanya”. Format berubah-ubah, orang yang mencatat berbeda-beda, dan tidak ada standar baku. Akibatnya, data stok menjadi tidak konsisten.

Contoh:

  • Kadang mencatat dalam satuan pcs, kadang box
  • Tidak ada kolom tanggal
  • Tidak mencatat stok rusak

Kesalahan ini tampak kecil, tetapi menjadi sumber utama ketidakakuratan data.

2. Mengandalkan Stok Fisik Tanpa Rekonsiliasi Berkala

Sebagian besar bisnis kecil hanya melihat rak gudang untuk menentukan stok. Tanpa rekonsiliasi, perbedaan angka antara catatan dan stok nyata akan terus membesar.

Penyebabnya:

  • Human error
  • Barang rusak tidak dilaporkan
  • Ada produk yang dipakai internal
  • Pencatatan dilakukan setelah barang keluar, bukan saat transaksi

Ini salah satu akar masalah dead stock dan selisih stok.

3. Tidak Punya Forecasting Sederhana

Bukan hanya perusahaan besar yang membutuhkan peramalan permintaan. UMKM pun harus memproyeksikan permintaan agar pembelian stok tidak berlebihan.

Contoh kesalahan:

  • Mengira barang “pasti laku” hanya karena sedang tren
  • Membeli stok banyak karena harga grosir lebih murah
  • Mengabaikan pola permintaan musiman

Tanpa forecasting, stok akan menumpuk dan membebani cashflow.

4. Tidak Menerapkan Klasifikasi Stok (ABC)

Semua barang dianggap sama. Padahal, setiap stok memiliki nilai dan perputaran berbeda. Produk bernilai tinggi seharusnya dikelola lebih ketat dibanding barang dengan nilai rendah.

Kesalahan ini membuat:

  • Barang A (nilai tinggi) tidak diawasi
  • Barang C (nilai rendah) justru menumpuk
  • Keputusan pembelian tidak tepat sasaran

5. Tidak Mencatat Lead Time Pemasok

Lead time adalah waktu antara pemesanan dan barang datang. Banyak bisnis tidak memperhitungkan ini. Akibatnya, barang sering habis karena permintaan meningkat, tetapi pesanan baru belum tiba.

Kesalahan ini menyebabkan:

  • Kehabisan stok di saat paling dibutuhkan
  • Pelanggan kecewa
  • Penjualan hilang

6. Tidak Menghitung Reorder Point

Reorder point seharusnya menjadi patokan kapan harus pesan ulang. Namun banyak bisnis hanya memesan ketika gudang “terlihat kosong”.

Ini berbahaya, karena:

  • Ketika barulah sadari stok menipis, sudah terlambat memesan
  • Ketergantungan pada “feeling” staf gudang
  • Menimbulkan out-of-stock mendadak

7. Tidak Mengelola Stok Obsolete dan Dead Stock

Dead stock disebabkan oleh:

  • Tidak laku
  • Salah beli
  • Tren berubah
  • Perubahan varian produk

Kesalahan klasiknya adalah membiarkan barang tersebut menumpuk. Dead stock memakan modal dan ruang penyimpanan.

8. Tidak Menggunakan Cycle Count

Cycle count adalah strategi menghitung stok secara bertahap, bukan menunggu akhir bulan atau akhir tahun. Banyak bisnis tidak melakukannya.

Dampak kesalahan:

  • Selisih stok terlambat diketahui
  • Tumpukan error yang makin sulit diperbaiki
  • Terjadi stok “hilang” secara misterius

9. Tidak Ada Pembatasan Akses Gudang

Stok sering hilang bukan karena dicuri, melainkan karena tidak ada kontrol akses. Semua orang bebas masuk gudang.

Kesalahan ini menciptakan:

  • Barang keluar tanpa pencatatan
  • Penempatan barang asal-asalan
  • Kesalahan picking saat kirim barang

10. Tidak Melatih Tim Gudang

Teknologi bagus sekalipun tidak berguna jika orang yang mengoperasikannya tidak terlatih. Banyak bisnis menganggap gudang hanya pekerjaan fisik, padahal butuh ketelitian tinggi.

Kesalahan ini menyebabkan:

  • Ketidakteraturan
  • Data tidak sesuai
  • Kesalahan input saat mencatat keluar-masuk barang

Dampaknya Bagi Bisnis

Kesalahan-kesalahan di atas menghasilkan dampak besar yang sering kali tidak disadari sampai masalah menjadi fatal.

1. Cashflow Tersendat

Stok berlebih menyedot modal. Barang belum tentu laku, tetapi modal sudah terkunci di rak gudang.

Akibatnya:

  • Tidak bisa membeli item yang lebih laku
  • Sulit membayar operasional
  • Tidak bisa menambah varian produk

2. Peningkatan Dead Stock

Dead stock adalah pembunuh cashflow. Ini bisa terjadi karena pembelian salah, pencatatan keliru, atau tren berubah.

Perusahaan yang tidak memperbaiki inventory control akan mengulang kesalahan sama.

3. Kehilangan Pelanggan

Jika barang sering habis, pelanggan akan pindah ke kompetitor. Mereka tidak menunggu bisnis memperbaiki stok.

4. Biaya Operasional Membengkak

Stok berlebih membutuhkan:

  • Ruang penyimpanan lebih besar
  • Tenaga tambahan
  • Penanganan lebih rumit
  • Risiko barang rusak/expired

Semua itu menciptakan biaya yang seharusnya tidak perlu.

5. Keputusan Bisnis Menjadi Tidak Akurat

Inventory control yang buruk menciptakan data yang salah. Tanpa data yang benar, keputusan bisnis menjadi spekulatif.

Misalnya:

  • Mengira barang laris padahal sebenarnya tidak
  • Mengira stok habis padahal salah pencatatan
  • Mengira perlu gudang lebih besar padahal stok menumpuk

Cara Memperbaiki Kesalahan dengan Cepat

Bagian ini berfokus pada langkah-langkah ready-to-use yang bisa diterapkan dalam hitungan hari.

1. Buat Standar Pencatatan (SOP)

SOP membantu tim bekerja konsisten.

SOP minimal berisi:

  • Format pencatatan
  • Waktu pencatatan
  • Tanggung jawab pencatatan
  • Aturan penempatan barang
  • Akses gudang

Dalam banyak kasus, SOP sederhana saja sudah mengurangi kesalahan 30–50%.

2. Terapkan Cycle Count Mingguan

Tidak perlu menunggu tutup buku akhir bulan.

Cara cepat:

  • Tentukan 20% barang paling penting
  • Hitung stoknya minimal 1–2 kali per minggu
  • Cocokkan dengan catatan

Ini membuat data lebih akurat tanpa mengganggu operasional.

3. Buat Forecasting Sederhana

Forecast tidak harus rumit.

Gunakan:

  • Data penjualan 3 bulan terakhir
  • Pola permintaan mingguan
  • Faktor musiman

Bahkan spreadsheet pun cukup.

4. Gunakan Reorder Point

Gunakan rumus dasar:

Reorder Point = (Rata-rata penjualan harian × lead time) + safety stock

Dengan ROP, pemesanan tidak perlu berdasarkan “feeling”.

5. Terapkan Klasifikasi ABC

Caranya:

  • Kelompokkan produk berdasarkan kontribusi nilai penjualan
  • Fokus pada produk A untuk pengawasan ketat
  • Produk B cukup diamati rutin
  • Produk C hanya dikelola secara sederhana

Langkah ini membuat kontrol lebih efisien.

6. Buang atau Jual Cepat Dead Stock

Jangan menunggu barang bertambah tua.

Metode pembersihan stok:

  • Bundling
  • Diskon khusus
  • Flash sale
  • Paket cuci gudang
  • Donasi (untuk beberapa jenis barang)

Setelah bersih, buat aturan agar dead stock tidak terulang.

7. Batasi Akses Gudang

Gunakan:

  • Rak dengan label
  • Area terlarang
  • Akses hanya untuk staf tertentu

Ini meningkatkan akurasi dan ketertiban.

8. Latih Tim Gudang Secara Berkala

Poin pelatihan:

  • Cara mencatat stok
  • Cara cycle count
  • Penempatan barang FIFO
  • Cara membaca laporan stok

Tim yang terlatih = akurasi meningkat signifikan.

Tools Pendukung Minim Kesalahan

Tidak semua bisnis harus memakai sistem ERP. Tools sederhana pun bisa menurunkan error hingga 70%.

Berikut rekomendasinya.

1. Spreadsheet (Google Sheets / Excel)

Cocok untuk UMKM.

Manfaat:

  • Gratis
  • Mudah digunakan
  • Bisa dipakai banyak orang
  • Cocok untuk forecasting sederhana

Format wajib:

  • SKU
  • Nama barang
  • Stok masuk
  • Stok keluar
  • Stok tersisa
  • Catatan selisih

2. Kartu Stok

Kartu stok ditempel di rak barang.

Keunggulannya:

  • Memaksa pencatatan fisik
  • Cocok untuk barang fast moving
  • Memudahkan audit stok

3. Aplikasi Inventory Simple

Beberapa aplikasi gratis atau murah:

  • Stock and Inventory Simple
  • Sortly
  • Zoho Inventory (free tier)
  • Inflow Inventory

Ini memberikan fitur barcode, pencatatan batch, dan laporan dasar.

4. Dashboard Penjualan Sederhana

Dashboard membantu membaca tren dan pola permintaan.

Data yang wajib dimonitor:

  • Barang paling laris
  • Barang paling lambat
  • Hari dengan penjualan tertinggi
  • Frekuensi restock

Tools yang bisa dipakai:

  • Google Data Studio
  • Excel Pivot
  • Sheet + Add-on

Langkah Implementasi + Evaluasi

Agar inventory control membaik secara bertahap, gunakan langkah berikut.

1. Minggu 1 — Bersihkan Data Stok

  • Audit seluruh stok
  • Catat angka awal
  • Buang dead stock
  • Pisahkan stok baik dan rusak

2. Minggu 2 — Buat Sistem Pencatatan

  • Tentukan format spreadsheet
  • Siapkan kartu stok
  • Train staf melakukan pencatatan

3. Minggu 3 — Terapkan Cycle Count

  • Pilih barang kategori A
  • Mulai cycle count mingguan
  • Cocokkan catatan vs stok fisik

4. Minggu 4 — Buat Reorder Point

  • Kalkulasi kebutuhan minimal
  • Mulai memakai ROP sebagai acuan pembelian

5. Bulan 2-3 — Evaluasi Tren

Pantau:

  • Penurunan selisih stok
  • Perbaikan perputaran persediaan
  • Dead stock berkurang
  • Akurasi meningkat

Gunakan data evaluasi untuk memperbaiki SOP.

Optimalkan pengelolaan inventory bisnis Anda sekarang juga. klik tautan ini untuk melihat jadwal terbaru dan penawaran spesial solusi terbaik untuk stok yang lebih efisien dan terkendali.

Referensi

  1. Silver, E., Pyke, D., & Peterson, R. Inventory Management and Production Planning and Scheduling.
  2. Chopra, S., & Meindl, P. Supply Chain Management: Strategy, Planning, and Operation.
  3. Nahmias, S. Production and Operations Analysis.
  4. Artikel whitepaper APICS tentang Inventory Accuracy & Cycle Counting.
  5. Oxford College of Marketing – Inventory Classification Methods (ABC, VED, FSN).
  6. Harvard Business Review – Why Companies Fail at Inventory Planning.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Cara Menentukan Safety Stock yang Ideal Tanpa Over Budget
  • Bagaimana Implementasi ABC Analysis Bisa Tingkatkan Profit?
  • Mengapa Perusahaan Kelas Dunia Serius Mengelola Inventory Control?
  • Tips Mengatur Stok Agar Tidak Expired atau Rusak di Gudang
  • 5 Trik Menekan Biaya Penyimpanan dengan Perencanaan Inventory yang Cerdas

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • December 2025
  • November 2025

Categories

  • inventory control
  • pelatihan
  • soft skill
  • strategi
  • training
  • Uncategorized
©2026 My Blog | Design: Newspaperly WordPress Theme